Thursday, 15 June 2017

Supervisi Pendidikan

Konsep dan Makna Supervisi Pendidikan

Pendahuluan
Pendidikan adalah usaha sadar yang dengan sengaja dirancangkan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Pendidikan bertujuan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Salah satu usaha untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia ialah melalui proses pembelajaran di sekolah. 

Dalam usaha meningkatkan kualitas sumber daya pendidikan, guru merupakan komponen sumber daya manusia yang harus dibina dan dikembangkan terus-menerus. Pembentukan profesi guru dilaksanakan melalui program pendidikan pra-jabatan maupun program dalam jabatan. Tidak semua guru yang dididik di lembaga pendidikan terlatih dengan baik dan kualified. Potensi sumber daya guru itu perlu terus bertumbuh dan berkembang agar dapat melakukan fungsinya secara potensial. Selain itu pengaruh perubahan yang serba cepat mendorong guru-guru untuk terus-menerus belajar menyesuaikan diri dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta mobilitas masyarakat. 

Masyarakat mempercayai, mengakui dan menyerahkan kepada guru untuk mendidik tunas-tunas muda dan membantu  mengembangkan potensinya secara professional. Kepercayaan, keyakinan, dan penerimaan ini merupakan substansi dari pengakuan masyarakat terhadap profesi guru. Implikasi dari pengakuan tersebut mensyaratkan guru harus memiliki kualitas yang memadai. Tidak hanya pada tataran normatif saja namun mampu mengembangkan kompetensi yang dimiliki, baik kompetensi personal, professional, maupun kemasyarakatan dalam selubung aktualisasi kebijakan pendidikan. Hal tersebut lantaran guru merupakan penentu keberhasilan pendidikan melalui kinerjanya pada tataran institusional dan eksperiensial, sehingga upaya meningkatkan mutu pendidikan harus dimulai dari aspek "guru" dan tenaga kependidikan lainnya yang menyangkut kualitas keprofesionalannya maupun kesejahteraan dalam satu manajemen pendidikan yang professional.

Guru-guru pun tidak bekerja sendiri tetapi mereka membutuhkan bantuan dalam mencoba mengerti tujuan-tujuan pendidikan, tujuan-tujuan kurikulum, tujuan-tujuan instruksional secara operasional. Mereka membutuhkan bantuan dalam menggali bahan-bahan pengalaman belajar dan sumber-sumber belajar serta metode yang relevan. Mereka membutuhkan pengalaman mengenal dan menilai hasil belajar peserta didik dan mengharapkan bantuan dalam hal memecahkan persoalan-persoalan pribadi dan jabatan mereka. Semuanya membutuhkan bantuan dari seseorang yang mempunyai kelebihan. Pekerjaan orang inilah yang biasa disebut sebagai supervisi.

Pengertian Supervisi
Istilah “supervisi” berkembang baru kira-kira mulai dua puluh tahun terakhir ini. Sesuai dengan fungsi manajemen, maka tahap kegiatan sebaiknya dilengkapi dengan pengawasan untuk mengelola bekerjanya setiap komponen ke arah pencapaian tujuan. Demikian juga dalam hal pendidikan dimana pengawasan itu selalu ada.

Dahulu kegiatan pengawasan sering disebut sebagai inspeksi, pemeriksaan, pengawasan atau penilikan.  Beberapa istilah tersebut sama penekanannya tetapi dalam hal tujuan berbeda. Inspeksi mengandung arti “memeriksa dengan melihat atau mencari kekurangan dan kesalahan”. Pemeriksaan lebih diartikan dalam hal “melihat apa yang terjadi dalam kegiatan, dan belum tampak adanya penilaian”. Pengawasan atau penilikan mempunyai arti sepadan dan lebih mendekati supervisi, yaitu “melihat suatu kegiatan apakah sudah sesuai dengan tujuan, dan disini sudah mengadakan penilaian dengan mengidentifikasi hal-hal yang sudah baik sesuai dengan tujuan (harapan) dan yang belum sesuai dengan tujuan (harapan).”

Supervisi merupakan istilah baru yang menunjuk pada suatu pengawasan tetapi lebih humanis (manusiawi). Alasannya dalam kegiatan supervisi pelaksana bukan mencari kesalahan-kesalahan, tetapi lebih banyak mengandung unsur pembinaan agar pekerjaan yang diawasi diketahui kekurangannya, bukan semata-mata kesalahannya, untuk dapat diberitahu bagian yang perlu diperbaiki dan bagaimana cara peningkatannya.

Istilah supervisi sendiri dapat dijelaskan baik menurut asal-usul (etimologi), bentuk perkataannya (morfologi), maupun istilah katanya sendiri (terminologi).
Secara Etimologi, Supervisi berangkat dari kata supervision yang artinya pengawasan.  Supervisi pendidikan berarti kepengawasan di bidang pendidikan. Pelakunya disebut “Supervisor” atau pengawas (supervisor pendidikan).

Secara Morfologi, Bentuk perkataannya dapat dirumuskan “supervisi = super + visi”. Super berarti “di atas” dan visi berarti “melihat”.  Sehingga dapatlah dikatakan bahwa supervisi merupakan kegiatan “melihat dari atas”. Supervisi dapat dikatakan sebagai kegiatan melihat, menilik, atau mengawasi yang dilakukan oleh atasan (orang yang berposisi di atas, yaitu pimpinan) terhadap hal-hal yang ada di bawahnya (bawahan).

Secara Terminologi, Para ahli berbeda-beda dalam mendefinisikan istilah “supervisi”. Pada hakikatnya isi yang terkandung dalam definisi yang dirumuskan tersebut tergantung dari orang yang mendefinisikan.

Menurut Suharsimi Arikunto yang dikutip dari Buku Pedoman Kurikulum tahun 1975 dan diperbaharui sebagai kurikulum 1984, yaitu Buku III D yang berjudul Pedoman Administrasi dan Supervisi Pendidikan disebutkan definisi supervisi ialah pembinaan yang diberikan kepada seluruh staf sekolah agar mereka dapat meningkatkan kemampuan untuk mengembangkan situasi belajar-mengajar dengan lebih baik. 

Adapun dalam Carter Good’s Dictionary of Education seperti yang juga dikutip Suharsimi Arikunto, Supervisi didefinisikan sebagai:
Segala sesuatu dari para pejabat sekolah yang diangkat yang diarahkan kepada penyediaan kepemimpinan bagi para guru dan tenaga pendidikan lain dalam perbaikan pengajaran, melihat stimulasi pertumbuhan profesional dan perkembangan dari para guru, seleksi dan revisi tujuan-tujuan pendidikan, bahan pengajaran, dan metode-metode mengajar, dan evaluasi pengajaran. 

Konsep supervisi modern dirumuskan oleh Kimball Wiles (1967) sebagai berikut : “Supervision is assistance in the devolepment of a better teaching learning situation”. (Supervisi adalah bantuan dalam pengembangan situasi pembelajaran yang lebih baik). Rumusan ini mengisyaratkan bahwa layanan supervisi meliputi keseluruhan situasi belajar mengajar (goal, material, technique, method, teacher, student, an envirovment). 

Oteng Sutisna memberikan batasan definisi supervisi dengan mengacu pada Boardmab seorang ahli dari Amerika Serikat sebagai berikut:
Supervision of instruction in the effort to stimulate, coordinate, and guide the continued growth of the teacher in the school, both individually and collectively, in better understanding and more effective performance at all the functions of intructions so that may better able to stimulate and guide the continued growth of every pupil toward the richest and most intelligent participation and modern democratic society. 

Dengan batasan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa dengan supervisi yang intensif kepada guru, secara tidak langsung siswa akan kena dampaknya yaitu ikut terangkat prestasi belajarnya. Supervisi diharapkan mampu membantu guru dalam memahami tujuan pendidikan dan peran sekolah dalam mencapai tujuan tersebut.

Secara garis besar Supervisi pendidikan lebih ditekankan pada pembinaan ke arah perbaikan situasi pendidikan, yaitu berupa bimbingan atau tuntunan ke arah peningkatan mutu pendidikan atau pembelajaran.

Sejarah Supervisi Pendidikan
Selama abad 18 dan 19-an, supervisi berbentuk inspeksi. Sekolah yang mempeloporinya adalah sekolah-sekolah di Amerika, mereka menempatkan suatu dewan yang bertugas mengawasi proses penyelenggaraan sekolah. Badan ini terdiri dari perwakilan masyarakat, yang bertugas mereview fasilitas sekolah secara periodik, sarana/prasarana, dan kemajuan kehadiran siswa. Proses pengawasan oleh masyarakat ini diilhami oleh ditempatkannya suatu dewan pertimbangan di gereja untuk mengawasi pengelolaan keagamaan. Proses pengawasan oleh masyarakat itu kemudian berkembang menjadi kontrol dan inspeksi masyarakat. Hubungan bersifat kaku dan menghukum, dengan aktivitas telling, directing, and judging. Kegiatan supervisi ini kadang bisa mengakibatkan guru dipecat.

Pada perkembangan selanjutnya peran dan fungsi inspeksi dewan diambil oleh seorang supervisor.Berperan sebagai wakil pimpinan, dan bekerja langsung di sekolah, dewan sekolah akhirnya hanya berkonsentrasi pada hal-hal yang bersifat umum saja seperti konstruksi bangunan dan peningkatan pendapatan sekolah.

Awal abad ke-20an, inspeksi sekolah hanya dilakukan untuk mensupervisi inspeksi guru di kelas. Supervisor masuk ke kelas, melihat proses belajar mengajar dan memeriksa persiapan-persiapan mengajar. Hal ini merupakan salah satu representasi dari pelaksanaan tugas pimpinan untuk mengawasi pelaksanaan pekerjaan. Sampai tahun 1910-an, pelaksanaan supervisi hanya merupakan kegiatan administratif saja.

Supervisi sekolah pada tahun 1940 sampai dengan pertengahan dekade berikutnya lebih mengarah pada proses dari pada produk. Supervisor lebih banyak menghabiskan waktunya untuk membantu para guru bukannya sebagai penilai kinerja guru.

Awal tahun 1960-an supervisor menjadi ahli bidang mata pelajaran. Tugas supervisor adalah menginterpretasikan kurikulum dan mengorganisir material, melibatkan guru dalam menghasilkan program sekolah, serta berperan sebagai resource person bagi guru-guru di kelas.

Berikut ini ada beberpa perkembangan tujuan supervisi dari masa ke masa, Inspeksi dan Peningkatan (1850-1910), Supervisi Saitifik (1910-1920), Supervisi Birokratis (1920-1930), Supervisi Kooperatif (1930-1955), Supervisi sebagai pengembangan kurikulum (1955-1965), Supervisi Klinis (1965-1970), Supervisi sebagai manajemen (1970-1980), Pengelolaan pengajaran (1980- ). 

Perkembangan Konsep Supervisi Pendidikan
Konsep Inspeksi
Awal mula konsep supervisi berangkat dari peningkatan makna “inspeksi” yang berkonotasi mencari-cari kesalahan. Orang yang menginspeksi menganggap dirinya lebih mahir dan mengetahui banyak tentang pendidikan/pembelajaran sehingga bawahan harus menirunya. Padahal karakter dan kemampuan setiap guru atau personalia pendidikan berbeda-beda. Jelaslah kesan tersebut sangat kurang tepat dan tidak sesuai lagi, dalam arti kurang manusiawi.
Dalam inspeksinya seorang inspektor mengadakan beberapa kegiatan, diantaranya:
  • Controlling, yaitu memeriksa apakah segala peraturan, instruksi-instruksi atau rencana-rencana yang ditetapkan oleh inspeksi (atasan) telah dijalankan sebagaimana mestinya.
  • Correcting, yaitu memeriksa apa yang dijalankan itu sesuai dengan apa yang telah ditetapkan/digariskan; sasarannya ialah mencari kesalahan-kesalahan yang mungkin dilakukan bawahan. Istilah “correct” sesungguhnya berarti benar atau membenarkan/membetulkan. Akan tetapi dalam praktek inspeksi justru mencari kesalahan-kesalahan, kekurangan-kekurangan yang mungkin diperbuat oleh orang-orang yang diinspeksi.
  • Judging, yaitu mengadili dalam arti memberikan penilaian atau keputusan sepihak: menegur, mengecam atau memutasikan bahkan memberhentikan sementara atau memecat dari jabatan. 
  • Directing, yaitu pengarahan dengan menentukan garis-garis dan cara-cara yang harus dilaksanakan oleh orang yang diinspeksi itu.
  • Demonstration, yaitu memperlihatkan atau mempertunjukkan bagaimana cara atau metode mengajar yang sebaiknya. 

Konsep Supervisi Pendidikan
Tetapi perkembangan inspeksi kini berganti dengan “supervisi” yang kegiatannya lebih kepada perihal mengamati, mengidentifikasi mana hal-hal yang sudah benar, mana yang belum benar, dan mana pula yang tidak benar, dengan maksud agar dapat dengan tepat mencapai tujuan. Supervisi lebih mengarah pada proses pembinaan sehingga terlihat lebih humanis daripada inspeksi.

Adapun kegiatan supervisi itu sendiri mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
  1. Research, yaitu meneliti bagaimana situasi sekolah yang sebenarnya, baik dengan perumusan problema, pengumpulan data dan pengolahannya serta penyimpulan.
  2. Evaluation, yaitu menilai secara bersama-sama antara supervisor dengan yang disupervisi baik mencari, meninjau atau menganalisa aspek-aspek kemajuan, kekurangan dan kendala-kendala.
  3. Improvement, yaitu mengadakan perbaikan-perbaikan secara bersama, baik mengusahakan cara mengatasi kendala, kekurangan serta mempertahankan hal yang sudah baik bahkan meningkatkannya.
  4. Assistance, yaitu memberikan bantuan, bimbingan, dan penyuluhan atas kesadaran tugas dan tanggungjawab supervisor demi tercapainya tujuan.
  5. Cooperation, yaitu kerjasama antara supervisor dan supervisee (yang disupervisi) ke arah perbaikan. 

Secara umum berbicara mengenai konsepsi, setidaknya ada 7 jenis konsep supervisi yang bisa dipaparkan, yaitu:
  • Supervisi yang berfokus pada administrasi, yaitu memandang proses supervisi merupakan suatu kegiatan administrasi sekolah dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran dalam konteks sistem pendidikan. Supervisi merupakan kegiatan staf sekolah mendayagunakan sumber daya yang dimiliki sekolah dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran.
  • Supervisi yang berfokus pada kurikulum, yaitu proses supervisi adalah kegiatan membuat kurikulum dan merevisinya, mempersiapkan unit-unit dan material pembelajaran, pengembangan proses dan instrumen laporan ke orang tua, dan evaluasi umum program kependidikan secara umum.
  • Supervisi yang berfokus pada pengajaran, yaitu memandang proses supervisi sebagai suatu kegiatan peningkatan pengajaran dan implementasi kurikulum di kelas.
  • Supervisi yang berfokus pada human relations, yaitu melibatkan semua orang di lingkungan pendidikan, tidak hanya personel sekolah. Supervisor menginisiatif komunikasi efektif, membantu orang-orang untuk bisa saling mendengarkan, berbagi dan saling membantu.
  • Supervisi yang berfokus pada manajemen, yaitu semua aktivitas supervisi terlibat dalam semua tatanan organisasi. Semua sumberdaya yang dimiliki harus dimanfaatkan dalam rangka efektivitas dan efisiensi mencapai tujuan.
  • Supervisi yang berfokus pada kepemimpinan, yaitu mengajari guru sebagaimana mengajar dan menjadi pemimpin pendidikan dalam reformulasi pendidikan masyarakat yang meliputi kurikulum, pengajaran dan bentuknya. 

Sesuai objek yang diamati, supervisi kemudian mengalami perkembangan, yaitu:
  1. Supervisi akademik, yang menitikberatkan pengamatan pada masalah akademik yang langsung berkaitan dengan lingkup kegiatan pembelajaran (aspek akademik dan pembelajaran).
  2. Supervisi administrasi, yang menitikberatkan pengamatan pada aspek-aspek administrasi (pencatatan dan layanan) yang berfungsi sebagai pendukung terlaksananya pembelajaran.
  3. Supervisi lembaga, yang menitikberatkan pengamatannya pada seluruh sekolah sebagai sebuah lembaga pendidikan. Lingkupnya bukan tertuju langsung pada mutu kegiatan pembelajaran atau mutu layanan administrasi saja tetapi pada mutu lembaga. 

Perkembangan seluruh objek supervisi di atas kemudian disebut sebagai supervisi pendidikan. Penanggungjawab supervisi akademik adalah guru, penenggungjawab supervisi administrasi adalah tenaga administrasi, sedang penanggungjawab supervisi lembaga adalah kepala sekolah dan para wakilnya.

Makna penanggungjawab di sini bahwa pihak yang mempunyai tanggungjawab tersebut memikul beban terberat bagi terciptanya kualitas masing-masing lingkup. Untuk lingkup akademik tanggungjawab terberat terletak di pundak guru. Berikutnya administrasi berada di pundak kepala kantor tatausaha, sedangkan mengenai kelembagaan tanggungjawab terberat terletak di pundak kepala sekolah.



Daftar Rujukan
Arikunto,  Suharsimi dan Yuliana, Lia, Manajemen Pendidikan. Yogyakarta: Aditya Media bekerjasama dengan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta, 2008.
Arikunto, Suharsimi, Dasar-dasar Supervisi. Jakarta: PT Rineka Cipta, 2004.
--------, Organisasi dan Administrasi Pendidikan Teknologi dan Kejuruan. Jakarta: Rajawali, 1990.
Djuwaeli, H.M. Irsyad, Pembaruan Kembali Pendidikan Islam. Ciputat: Yayasan Karsa Utama Mandiri dan PB Mahla’ul Anwar, 1998.
Echols,  John M. dan Shadily, Hassan, Kamus Inggris-Indonesia. Jakarta: PT Gramedia, 1992.
Ghuddah, Abd al-Fattah Abu, 40 Strategi Pembelajaran Rasulullah. Yogyakarta: Tiara Wacana, 2005.
Mufidah, Lukluk Nur, Supervisi Pendidikan. Jember: Center for Society Studies, 2008.
Sahertian, Piet A., Konsep Dasar dan Teknik Supervisi Pendidikan dalam Rangka Pengembangan Sumber Daya Manusia. Jakarta: PT Rineka Cipta, 2000.
Sutisna, Oteng, Administrasi Pendidikan: Dasar Teoritis untuk Praktek Profesional. Bandung: Penerbit Angkasa, 1983.

0 comments:

Post a Comment